“Jadi kau temannya Shani?” Tanya seorang pria paruh baya.
“Ahh
iya.” Ucapku. Lalu seorang wanita paruh baya datang dan menaruh nampan dimeja
lalu menyodorkan segelas minuman hangat padaku dan kakek itu.
“Terimakasih
karena sudah mengantar cucuku.” Ucap wanita itu
“Ah
iya.” Ucapku sambil meminum minuman yang diberikan wanita itu.
“Tubuh
Shani memang rapuh, dia mudah sekali terkena demam.” Ucap Pria yang menurutku
adalah kakeknya Shani.
“Wahh
minumannya segar sekali. Aroma dan rasanya.” Ucapku yang sedang menikmati
minumannya.
“Hahahaha,
kau jeli sekali anak muda. Itu teh terbaik buatan istriku.” Ucap Pria itu.
“Benarkah.
Hmm..” Ucapku sambil menikmati minumannya.
“Panggil
saja aku Nenek.” Ucap Wanita itu.
“Asal
kau tahu salah satu alasan kenapa aku menikah dengannya adalah karena dia
sangat pintar meracik teh maupun kopi.” Ucap Pria itu sambil berbisik.
“Aku
mendengarmu. Tapi kau jangan mau dibohongi. Sebenarnya dia juga suka pada wajah
cantikku dulu.” Balas wanita itu.
“Kan
aku bilang salah satunya. Itu artinya masih banyak hal yang membuatku
menyukaimu.” Ucap Pria itu lalu tertawa. Aku hanya tersenyum dan mengangguk
mendengarkan dua orang paruh baya sedang berbicara dihadapanku.
“Ohh
kita terlalu banyak bicara hingga membuat tamu kita merasa canggung seperti
itu.” Ucap wanita itu.
“Ahh
tidak tidak, aku justru senang. Dan kalian masih bisa menciptakan suasana romantis
seperti ini.” Ucapku.
“Yahh
itu tergantung bagaimana pasanganmu.” Ucap Pria itu.
“Aku
akan menengok Shani dulu kekamarnya. Kau jangan dulu pulang yah.” Ucap Wanita
itu lalu pergi. Sesaat kemudian seorang wanita yang cantik datang dengan wajah
tersenyum.
“Bagaimana
keadaannya sekarang?” Tanya Wanita paruh baya itu pada wanita cantik yang baru
datang.
“Demamnya
sudah turun, tapi dia masih belum sadar.” Jawabnya.
“Ohh
begitu. Aku akan menemaninya.” Ucap Wanita paruh baya itu dan lalu pergi.
“Kamu
Kido kan?” Tanya Wanita itu.
“Iya.”
Jawabku.
“Terimakasih
karena sudah mengantarkan Shani. Maaf kalau sedikit merepotkanmu.” Ucapnya.
“Ahh
tidak merepotkan kok. Jangan khawatir.” Ucapku. Dia hanya tersenyum. “Maaf
sebelumnya. Apa anda ibunya Shani?” Tanyaku.
“Iya.”
Jawabnya.
“Begitu.
Pantas saja terlihat mirip.” Ucapku.
“Dia.”
Ucapnya lirih. Aku hanya mendengarkan. “Shani sepertinya tersiksa dengan
kondisi keluarga kami, aku tau sebagai ibu aku sangat egois pada anakku
sendiri. Membiarkannya terpisah jauh dengan Ayah kandungnya sendiri dan bahkan
sekedar bertemu saja aku larang. Tapi itu semua aku lakukan demi kebaikan
Shani, laki-laki brengsek itu sudah tidak pantas lagi menjadi ayahnya. Dia
bukan ayah yang bertanggung jawab, dia bodoh, dia seenaknya. Dia! Ayahnya sudah
membujuk Shani agar Shani mau tinggal bersama dengannya dan adiknya. Namun
Shani tetap tidak mau, dia bilang dia tidak akan meninggalkanku dan akan terus
bersamaku. Sudah 3 tahun semenjak perceraianku dengannya. Aku selalu bersama
Shani, dimanapun dan kapanpun. Dia merupakan harta yang paling berharga yang
aku punya saat ini. Dan besok, laki-laki brengsek itu bilang akan mengunjungi
kami. Omong kosong!! Dia pasti datang hanya untuk merebut Shani dari dekapanku.
Makanya aku tidak terima. Aku lelah terus diusik olehnya. Aku harap dia segera
lenyap dari dunia ini.”
“Ibu.”
Selaku. “Kau tidak usah melanjutkan ceritanya, aku takut itu hanya akan membuka
luka lama yang selama ini sudah tertutup.”
“Tidak
apa-apa. Shani pernah bercerita padaku tentangmu. Katanya kamu baik dan penuh
perhatian, kamu juga peduli sekitar.” Ucap Ibunya Shani. Dasar!! Kenapa Shani
cerita tentangku pada ibunya.
“I-itu
terlalu berlebihan.” Ucapku mengelak. Ibunya Shani hanya tersenyum.
“Sudahlah
anakku. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Pergi sekarang untuk menghindari
mantan suamimu atau tetap disini menemuinya?” Ucap Pria paruh baya itu.
“Dengan
kondisi Shani yang sekarang sepertinya aku akan tunda kepergianku. Biar besok
aku yang menghadapinya.” Ucap Ibunya Shani.
“Anu..
Ibu, Kek. Aku pamit pulang dulu. Soalnya ini udah mau malam, takutnya ibuku
mencariku.” Ucapku lalu berdiri dan bersalaman dengan kedua orang itu.
“Baiklah.
Hati-hati dijalan nak.” Ucap kakek Shani. Ibunya Shani hanya tersenyum.
Setelah sampai dirumah, aku langsung
masuk kamar dan merebahkan tubuhku. Benar-benar hari yang menyenangkan, sedih
dan mengejutkan juga menurutku. Ibunya Shani bercrita banyak padaku. Aku
benar-benar terkejut dengan segala penuturannya, dan membuatku menjadi semakin
kasihan dan sayang padanya.
“Kido!!
Makan dulu. Ibu tau kamu belum makan, ambillah makanannya dimeja makan. Ibu
sudah memasakkannya untukmu.” Teriak Ibuku. Yah memang benar hari ini banyak
sekali yang terjadi. Sampai-sampai aku lupa untuk mengisi perutku.
“Iya
bu! Aku akan segera makan.” Ucapku lalu turun dari ranjang dan keluar kamar berjalan
menuju meja makan.
Ahhh kenyangnya. Ohh iya aku harus
memberitahu Wahyu semua yang terjadi hari ini. Aku lalu berusaha
menghubunginya. Namun dasar!! Handphonenya tidak aktif. Sedang apa dia saat
ini? Dasar!! Aku menyerah dan lebih memilih tidur lebih cepat. Aku harap besok
juga akan menjadi hari yang indah. Dan kuharap pertemuan Shani dengan Ayah dan
adiknya berjalan baik.
*
Tidak seperti biasanya, aku sudah mandi pagi sekali. Entahlah, ada apa sebenarnya. Namun aku berpikir untuk yaaahh mungkin membiasakan diri. Aku duduk diruang tengah sambil menonton tv. Tiba-tiba suara telpon rumah berbunyi. Ibuku lalu mengangkatnya, kulihat dia begitu senang menerima telpon itu. Dari siapa ya? Yah kuperhatikan sepertinya orang yang ditelpon itu menanyakan kabar tentang ibu lalu bagaimana keadaannya sekarang. Karena aku bisa mendengar dengan jelas apa yang ibu bicarakan, dia bilang baik-baik saja dan sehat lalu menanyakan balik hal itu kepada si penelpon.
“Kido.”
Panggil ibuku, dia lalu menggenggam gagang telpon itu dengan kedua tangannya.
“Ada
apa?” Tanyaku lalu berdiri dari sofa dan berjalan menuju ibuku
“Ada
yang mau berbicara denganmu.” Ucap ibukku yang dengan ekspresi sangat senang.
Aku mengerenyitkan dahiku.
“Siapa?”
Tanyaku lagi.
“Sudahlah
bicara saja dulu. Nanti juga kamu tau.” Ucap Ibuku yang langsung memberikan
gagang telponnya padaku. Aku menerimanya dan langsung kutempelkan pada
kupingku.
“Ya
halo. Siapa ini?” Tanyaku.
“Ibu
mau melanjutkan masak didapurnya. Kalian mengobrolah yang banyak, pasti kangen sekali
kan?” Ucap ibuku lalu pergi kedapur.
“Yang
benar saja.” Ucapku.
“Hei.
Kau tidak kangen sedikitpun ya?” Ucap seseorang yang menelpon itu.
“Kangen?
Yang benar saja! Siapa ini?” Tanyaku ketus.
“Ini
aku! Kau tidak mengenali suaraku.” Ucapnya.
“Tidak.”
Ucapku.
“Dasar!!”
Ucapnya dengan nada tinggi.
“Kenapa
kau malah marah padaku?” Ucapku dengan nada sedikit tinggi juga.
“Mempunyai
adik sepertimu benar benar membuatku kesal.” Ucapnya.
“Adik?”
Ucapku sedikit bingung.
“Iya.
Ini aku kakakmu. Jessica Veranda.” Ucapnya. Aku benar-benar kaget mendengarnya
“Ohh
kak Ve. Aku kira siapa. Hahaha suaramu berbeda dari yang biasa kudengar. Kau
menelpon darimana? Dasar laut?” Candaku. Begitu ya, akhirnya aku bisa berbicara
dengan kak Ve lagi setelah sekian lama. Mendengar suaranya saja aku benar benar
senang. Tidak kusangka ternyata dia baik-baik saja dan masih hidup.
“Kau
ini ya, masih saja bersikap seperti itu pada kakakmu sendiri.” Ucapnya.
“Yah
maaf maaf.. hahaha.” Ucapku.
“Membuatku
jadi semakin ingin bertemu saja denganmu.” Ucapnya dengan nada sedikit lirih.
“Apa?
Kakak menyebalkan seperti kak Ve bisa juga kangen sama adiknya.” Ucapku.
“Bagaimana
keadaanmu? Apa semuanya baik-baik saja.” Tanyanya.
“Yahh
aku sehat. Tapi tidak semuanya berjalan dengan baik.” Ucapku.
“Apa
maksudnya? Kau harus cerita padaku.” Ucapnya.
“Tidak.
Aku tidak mau bercerita pada gagang telpon. Nanti saja aku cerita kalau kakak
sudah pulang.” Ucapku.
“Itu
akan memakan waktu yang sangat lama kau tau.” Ucapnya.
“Biarlah.
Dan hei. Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau mau pergi ke luar negeri?
Kenapa malah mengelus kepalaku lalu berbisik hal-hal aneh seperti itu. Aku
tidak suka diberlakukan seperti itu.” Ucapku
“Hahaha..
iya iya maafkan aku. Soalnya aku takut kamu sedih kalau aku cerita yang sebenarnya.”
Ucapnya. Dasar! Itu membuatku sedikit kesal.
“Apa!
Kau pikir aku ini anak kecil apa?” Ucapku.
“Iya
memang masih anak kecil kan? Dan hei sopanlah sedikit ketika berbicara dengan
kakakmu sendiri dasar!” Ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
“Berisik!
Terserah aku mau bicara seperti apa.” Ucapku dengan nada yang sedikit keras
juga.
“Kau
ini ya susah sekali diatur.” Ucapnya.
Suasana jadi hening sejenak. Aku tidak tau
harus bicara apa lagi dengannya, tapi aku tidak ingin mengakhiri percakapan
yang langka ini. Sial!
“Syukurlah
kalau kau sehat sehat saja.” Ucapnya.
“Kak.!”
Ucapku.
“Apa?”
Tanyanya.
“Jangan
terlalu lama meninggalkanku.” Ucapku.
“Haa?
Memangnya kenapa? Lagipula tidak akan ada yang merebutmu dariku benarkan?”
Ucapnya.
“Bukan
seperti itu!” Ucapku dengan nada sedikit lirih.
“Lalu?”
Tanyanya.
“Aku
rindu padamu.” Ucapku. Suasana pun kembali hening.
“Asal
kakak tau saja, hidupku seperti sangat berbeda ketika tidak ada kakak
diampingku, aku hanya ingin kakak tetap berada didekatku. Menegurku, mengingatkanku
dan bahkan mungkin memukulku jika aku mulai mengarah ke hal-hal yang tidak
baik. Aku hanya ingin kakak berada terus disampingku. Aku mohon!” Ucapku yang
berusaha menahan air mataku agar tidak keluar dari tempatnya. Dasar! Memalukan
sekali kalau sampai menangis hanya karena kakak menyebalkan seperti itu. Tapi
itu adalah perasaan yang sesungguhnya didalam lubuk hatiku paling dalam.
“Jangan
menangis.” Ucapnya. Aku hanya diam dan berusaha agar suaraku tidak terdengar
seperti menangis olehnya.
“Aku
tidak menangis.” Ucapku.
“Sudahlah
jangan menyembunyikannya. Kau itu adikku, Aku tau segalanya tentangmu.”
Ucapnya. Aku tidak berbicara lagi.
“Jangan
khawatir, sebentar lagi kakak akan pulang untuk bertemu denganmu. Mengawasimu,
mengingatkanmu dan memukulmu nantinya.” Ucapnya.
“Aku
akan selalu menunggunya.” Ucapku.
“Baiklah,
senang juga bisa bicara banyak denganmu. Kau jaga ibu baik-baik yah sampai aku
kembali.” Ucapnya.
“Serahkan
padaku. kau tidak usah kawatir.” Ucapku.
“Dasar!
Kau masih saja tidak sopan sama kakakmu sendiri.” Ucapnya.
“Hihihihi.”
Tawaku.
“Ohh
iya kakak akan memberikan surprise untukmu.” Ucapnya.
“Surprise
apa?” Tanyaku.
“Kalau
aku beri tahu nantinya bukan surprise lagi.” Ucapnya.
“Menyebalkan
sekali.” Ucapku.
“Kalau
begitu kakak tutup teleponnya ya. Daah sampai jumpa.” Ucapnya. Dia menutup teleponnya,
aku juga menempatkan gagang telpon itu pada tempatnya. Benar-benar sebuah telepon
yang tidak disangka-sangka. Ternyata dia masih ingat tempatnya pulang. Dengan
begini aku sudah tenang dan akan menunggunya lagi. Sekitar 1 semester lagi, itu
bukanlah waktu yang cukup lama.
No comments:
Post a Comment