Thursday, September 1, 2016

Langit Biru Bagian 5


“Jadi kau temannya Shani?” Tanya seorang pria paruh baya.

“Ahh iya.” Ucapku. Lalu seorang wanita paruh baya datang dan menaruh nampan dimeja lalu menyodorkan segelas minuman hangat padaku dan kakek itu.

“Terimakasih karena sudah mengantar cucuku.” Ucap wanita itu

“Ah iya.” Ucapku sambil meminum minuman yang diberikan wanita itu.

“Tubuh Shani memang rapuh, dia mudah sekali terkena demam.” Ucap Pria yang menurutku adalah kakeknya Shani.

“Wahh minumannya segar sekali. Aroma dan rasanya.” Ucapku yang sedang menikmati minumannya.

“Hahahaha, kau jeli sekali anak muda. Itu teh terbaik buatan istriku.” Ucap Pria itu.

“Benarkah. Hmm..” Ucapku sambil menikmati minumannya.

“Panggil saja aku Nenek.” Ucap Wanita itu.

“Asal kau tahu salah satu alasan kenapa aku menikah dengannya adalah karena dia sangat pintar meracik teh maupun kopi.” Ucap Pria itu sambil berbisik.

“Aku mendengarmu. Tapi kau jangan mau dibohongi. Sebenarnya dia juga suka pada wajah cantikku dulu.” Balas wanita itu.

“Kan aku bilang salah satunya. Itu artinya masih banyak hal yang membuatku menyukaimu.” Ucap Pria itu lalu tertawa. Aku hanya tersenyum dan mengangguk mendengarkan dua orang paruh baya sedang berbicara dihadapanku.

“Ohh kita terlalu banyak bicara hingga membuat tamu kita merasa canggung seperti itu.” Ucap wanita itu.

“Ahh tidak tidak, aku justru senang. Dan kalian masih bisa menciptakan suasana romantis seperti ini.” Ucapku.

“Yahh itu tergantung bagaimana pasanganmu.” Ucap Pria itu.

“Aku akan menengok Shani dulu kekamarnya. Kau jangan dulu pulang yah.” Ucap Wanita itu lalu pergi. Sesaat kemudian seorang wanita yang cantik datang dengan wajah tersenyum.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Wanita paruh baya itu pada wanita cantik yang baru datang.

“Demamnya sudah turun, tapi dia masih belum sadar.” Jawabnya.

“Ohh begitu. Aku akan menemaninya.” Ucap Wanita paruh baya itu dan lalu pergi.

“Kamu Kido kan?” Tanya Wanita itu.

“Iya.” Jawabku.

“Terimakasih karena sudah mengantarkan Shani. Maaf kalau sedikit merepotkanmu.” Ucapnya.

“Ahh tidak merepotkan kok. Jangan khawatir.” Ucapku. Dia hanya tersenyum. “Maaf sebelumnya. Apa anda ibunya Shani?” Tanyaku.

“Iya.” Jawabnya.

“Begitu. Pantas saja terlihat mirip.” Ucapku.

“Dia.” Ucapnya lirih. Aku hanya mendengarkan. “Shani sepertinya tersiksa dengan kondisi keluarga kami, aku tau sebagai ibu aku sangat egois pada anakku sendiri. Membiarkannya terpisah jauh dengan Ayah kandungnya sendiri dan bahkan sekedar bertemu saja aku larang. Tapi itu semua aku lakukan demi kebaikan Shani, laki-laki brengsek itu sudah tidak pantas lagi menjadi ayahnya. Dia bukan ayah yang bertanggung jawab, dia bodoh, dia seenaknya. Dia! Ayahnya sudah membujuk Shani agar Shani mau tinggal bersama dengannya dan adiknya. Namun Shani tetap tidak mau, dia bilang dia tidak akan meninggalkanku dan akan terus bersamaku. Sudah 3 tahun semenjak perceraianku dengannya. Aku selalu bersama Shani, dimanapun dan kapanpun. Dia merupakan harta yang paling berharga yang aku punya saat ini. Dan besok, laki-laki brengsek itu bilang akan mengunjungi kami. Omong kosong!! Dia pasti datang hanya untuk merebut Shani dari dekapanku. Makanya aku tidak terima. Aku lelah terus diusik olehnya. Aku harap dia segera lenyap dari dunia ini.”

“Ibu.” Selaku. “Kau tidak usah melanjutkan ceritanya, aku takut itu hanya akan membuka luka lama yang selama ini sudah tertutup.”

“Tidak apa-apa. Shani pernah bercerita padaku tentangmu. Katanya kamu baik dan penuh perhatian, kamu juga peduli sekitar.” Ucap Ibunya Shani. Dasar!! Kenapa Shani cerita tentangku pada ibunya.

“I-itu terlalu berlebihan.” Ucapku mengelak. Ibunya Shani hanya tersenyum.

“Sudahlah anakku. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Pergi sekarang untuk menghindari mantan suamimu atau tetap disini menemuinya?” Ucap Pria paruh baya itu.

“Dengan kondisi Shani yang sekarang sepertinya aku akan tunda kepergianku. Biar besok aku yang menghadapinya.” Ucap Ibunya Shani.

“Anu.. Ibu, Kek. Aku pamit pulang dulu. Soalnya ini udah mau malam, takutnya ibuku mencariku.” Ucapku lalu berdiri dan bersalaman dengan kedua orang itu.

“Baiklah. Hati-hati dijalan nak.” Ucap kakek Shani. Ibunya Shani hanya tersenyum.

Setelah sampai dirumah, aku langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhku. Benar-benar hari yang menyenangkan, sedih dan mengejutkan juga menurutku. Ibunya Shani bercrita banyak padaku. Aku benar-benar terkejut dengan segala penuturannya, dan membuatku menjadi semakin kasihan dan sayang padanya.

“Kido!! Makan dulu. Ibu tau kamu belum makan, ambillah makanannya dimeja makan. Ibu sudah memasakkannya untukmu.” Teriak Ibuku. Yah memang benar hari ini banyak sekali yang terjadi. Sampai-sampai aku lupa untuk mengisi perutku.

“Iya bu! Aku akan segera makan.” Ucapku lalu turun dari ranjang dan keluar kamar berjalan menuju meja makan.

Ahhh kenyangnya. Ohh iya aku harus memberitahu Wahyu semua yang terjadi hari ini. Aku lalu berusaha menghubunginya. Namun dasar!! Handphonenya tidak aktif. Sedang apa dia saat ini? Dasar!! Aku menyerah dan lebih memilih tidur lebih cepat. Aku harap besok juga akan menjadi hari yang indah. Dan kuharap pertemuan Shani dengan Ayah dan adiknya berjalan baik.

*

Tidak seperti biasanya, aku sudah mandi pagi sekali. Entahlah, ada apa sebenarnya. Namun aku berpikir untuk yaaahh mungkin membiasakan diri. Aku duduk diruang tengah sambil menonton tv. Tiba-tiba suara telpon rumah berbunyi. Ibuku lalu mengangkatnya, kulihat dia begitu senang menerima telpon itu. Dari siapa ya? Yah kuperhatikan sepertinya orang yang ditelpon itu menanyakan kabar tentang ibu lalu bagaimana keadaannya sekarang. Karena aku bisa mendengar dengan jelas apa yang ibu bicarakan, dia bilang baik-baik saja dan sehat lalu menanyakan balik hal itu kepada si penelpon.

“Kido.” Panggil ibuku, dia lalu menggenggam gagang telpon itu dengan kedua tangannya.

“Ada apa?” Tanyaku lalu berdiri dari sofa dan berjalan menuju ibuku

“Ada yang mau berbicara denganmu.” Ucap ibukku yang dengan ekspresi sangat senang. Aku mengerenyitkan dahiku.

“Siapa?” Tanyaku lagi.

“Sudahlah bicara saja dulu. Nanti juga kamu tau.” Ucap Ibuku yang langsung memberikan gagang telponnya padaku. Aku menerimanya dan langsung kutempelkan pada kupingku.

“Ya halo. Siapa ini?” Tanyaku.

“Ibu mau melanjutkan masak didapurnya. Kalian mengobrolah yang banyak, pasti kangen sekali kan?” Ucap ibuku lalu pergi kedapur.

“Yang benar saja.” Ucapku.

“Hei. Kau tidak kangen sedikitpun ya?” Ucap seseorang yang menelpon itu.

“Kangen? Yang benar saja! Siapa ini?” Tanyaku ketus.

“Ini aku! Kau tidak mengenali suaraku.” Ucapnya.

“Tidak.” Ucapku.

“Dasar!!” Ucapnya dengan nada tinggi.

“Kenapa kau malah marah padaku?” Ucapku dengan nada sedikit tinggi juga.

“Mempunyai adik sepertimu benar benar membuatku kesal.” Ucapnya.

“Adik?” Ucapku sedikit bingung.

“Iya. Ini aku kakakmu. Jessica Veranda.” Ucapnya. Aku benar-benar kaget mendengarnya

“Ohh kak Ve. Aku kira siapa. Hahaha suaramu berbeda dari yang biasa kudengar. Kau menelpon darimana? Dasar laut?” Candaku. Begitu ya, akhirnya aku bisa berbicara dengan kak Ve lagi setelah sekian lama. Mendengar suaranya saja aku benar benar senang. Tidak kusangka ternyata dia baik-baik saja dan masih hidup.

“Kau ini ya, masih saja bersikap seperti itu pada kakakmu sendiri.” Ucapnya.

“Yah maaf maaf.. hahaha.” Ucapku.

“Membuatku jadi semakin ingin bertemu saja denganmu.” Ucapnya dengan nada sedikit lirih.

“Apa? Kakak menyebalkan seperti kak Ve bisa juga kangen sama adiknya.” Ucapku.

“Bagaimana keadaanmu? Apa semuanya baik-baik saja.” Tanyanya.

“Yahh aku sehat. Tapi tidak semuanya berjalan dengan baik.” Ucapku.

“Apa maksudnya? Kau harus cerita padaku.” Ucapnya.

“Tidak. Aku tidak mau bercerita pada gagang telpon. Nanti saja aku cerita kalau kakak sudah pulang.” Ucapku.

“Itu akan memakan waktu yang sangat lama kau tau.” Ucapnya.

“Biarlah. Dan hei. Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau mau pergi ke luar negeri? Kenapa malah mengelus kepalaku lalu berbisik hal-hal aneh seperti itu. Aku tidak suka diberlakukan seperti itu.” Ucapku

“Hahaha.. iya iya maafkan aku. Soalnya aku takut kamu sedih kalau aku cerita yang sebenarnya.” Ucapnya. Dasar! Itu membuatku sedikit kesal.

“Apa! Kau pikir aku ini anak kecil apa?” Ucapku.

“Iya memang masih anak kecil kan? Dan hei sopanlah sedikit ketika berbicara dengan kakakmu sendiri dasar!” Ucapnya dengan nada sedikit tinggi.

“Berisik! Terserah aku mau bicara seperti apa.” Ucapku dengan nada yang sedikit keras juga.

“Kau ini ya susah sekali diatur.” Ucapnya.

Suasana jadi hening sejenak. Aku tidak tau harus bicara apa lagi dengannya, tapi aku tidak ingin mengakhiri percakapan yang langka ini. Sial!

“Syukurlah kalau kau sehat sehat saja.” Ucapnya.

“Kak.!” Ucapku.

“Apa?” Tanyanya.

“Jangan terlalu lama meninggalkanku.” Ucapku.

“Haa? Memangnya kenapa? Lagipula tidak akan ada yang merebutmu dariku benarkan?” Ucapnya.

“Bukan seperti itu!” Ucapku dengan nada sedikit lirih.

“Lalu?” Tanyanya.

“Aku rindu padamu.” Ucapku. Suasana pun kembali hening.

“Asal kakak tau saja, hidupku seperti sangat berbeda ketika tidak ada kakak diampingku, aku hanya ingin kakak tetap berada didekatku. Menegurku, mengingatkanku dan bahkan mungkin memukulku jika aku mulai mengarah ke hal-hal yang tidak baik. Aku hanya ingin kakak berada terus disampingku. Aku mohon!” Ucapku yang berusaha menahan air mataku agar tidak keluar dari tempatnya. Dasar! Memalukan sekali kalau sampai menangis hanya karena kakak menyebalkan seperti itu. Tapi itu adalah perasaan yang sesungguhnya didalam lubuk hatiku paling dalam.

“Jangan menangis.” Ucapnya. Aku hanya diam dan berusaha agar suaraku tidak terdengar seperti menangis olehnya.

“Aku tidak menangis.” Ucapku.

“Sudahlah jangan menyembunyikannya. Kau itu adikku, Aku tau segalanya tentangmu.” Ucapnya. Aku tidak berbicara lagi.

“Jangan khawatir, sebentar lagi kakak akan pulang untuk bertemu denganmu. Mengawasimu, mengingatkanmu dan memukulmu nantinya.” Ucapnya.

“Aku akan selalu menunggunya.” Ucapku.

“Baiklah, senang juga bisa bicara banyak denganmu. Kau jaga ibu baik-baik yah sampai aku kembali.” Ucapnya.

“Serahkan padaku. kau tidak usah kawatir.” Ucapku.

“Dasar! Kau masih saja tidak sopan sama kakakmu sendiri.” Ucapnya.

“Hihihihi.” Tawaku.

“Ohh iya kakak akan memberikan surprise untukmu.” Ucapnya.

“Surprise apa?” Tanyaku.

“Kalau aku beri tahu nantinya bukan surprise lagi.” Ucapnya.

“Menyebalkan sekali.” Ucapku.

“Kalau begitu kakak tutup teleponnya ya. Daah sampai jumpa.” Ucapnya. Dia menutup teleponnya, aku juga menempatkan gagang telpon itu pada tempatnya. Benar-benar sebuah telepon yang tidak disangka-sangka. Ternyata dia masih ingat tempatnya pulang. Dengan begini aku sudah tenang dan akan menunggunya lagi. Sekitar 1 semester lagi, itu bukanlah waktu yang cukup lama.

No comments:

Post a Comment