Hari
ini aku merasa sangat bersemangat. Aku tidak tau kenapa, mungkin salah satu
penyebabnya adalah kemarin. Yah, kak Ve menelpon kami kemarin. Dia menanyakan segala
hal pada ibu dan aku. Jujur aku benar-benar sangat senang hari itu. Dan aku
berharap kak Ve segera menyelesaikan tugas observasinya dan pulang kerumah ini
dengan selamat. Disamping itu aku sedikit kurang suka dengan hari ini. Kenapa?
Karena hari ini Shani dan Ibunya akan pergi dari kota ini, aku benar-benar
berharap ini adalah mimpi. Aku tidak mau kehilangannya. Sial! Dan aku juga
sudah memberitahu Wahyu tentang Shani, semuanya aku beritahu. Bahkan aku bilang
padanya kalau aku sempat bilang pada Shani kalau dia menyukainya. Hahahaha, dan
tentu saja itu membuatnya marah besar padaku. tapi segalanya berjalan normal
kembali, mungkin. Hari ini jam 8 tepat aku dan Wahyu sudah janjian bertemu
dengan Shani di depan rumahnya. Dia dan Ibunya akan pergi menggunakan mobil
pribadi ke luar kota. Aku dan Wahyu bahkan sudah menunggu didepan rumahnya
sekitar pukul 7.
“Hei.
Aku masih kepikiran dengan kelakuanmu padaku?” Ucap Wahyu.
“Kelakuanku
yang mana?” Ucapku.
“Yang
benar saja. Kau memberitahunya kalau aku suka padanya sejak 6 bulan yang lalu?
Ohh man.. itu akan membuatnya menjauh dariku kau tau?” Ucapnya dengan sedikit
kesal.
“Bahkan
jika aku tidak memberitahukannya dia akan tetap pergi dan akan tetap menjauh
darimu. Bukan hanya dirimu tapi aku juga.” Ucapku. Dia terdiam sejenak.
“Kau
tau. Aku benar benar tidak menduga kalau Shani memiliki masalah yang sangat
besar. Maksudku, lihatlah cara dia tersenyum, cara dia berbicara. Seperti tidak
mempunyai masalah sama sekali kan? Dan dia sepertinya pintar sekali menyembunyikan
sesuatu.” Ucapnya. Aku mengangguk.
“Kau
benar. Bagaimanapun kita hanya baru mengenalnya 6 bulan ini.” Ucapku.
“Yahh
6 bulan yang indah.” Ucapnya. Aku melihatnya.
“Hei
kau tau, sebenarnya aku mulai suka dengan gadis smp itu.” Ucapnya lagi. Aku
mengerenyitkan dahiku.
“Gadis
smp itu? Siapa?” Tanyaku penasaran.
“Ohh
aku tidak akan memberitahumu, aku tidak percaya lagi padamu.” Ucapnya. Aku
hanya tersenyum, sepertinya dia benar-benar kesal padaku.
“Ayolah
Wahyu, kita kan sahabat. Beritahu aku siapa gadis smp yang kau maksud.” Ucapku
dengan nada sedikit memohon.
“Apa?
Kau berharap aku memberitahumu siapa gadis itu? Lalu tiba-tiba kau datang
padanya dan memberitahukannya kalau aku suka padanya sama seperti yang kau
lakukan pada Shani? Jangan bercanda. Aku tidak akan terjebak pada jurang yang
sama.” Ucapnya mantap. Baiklah, aku menyerah. Biarlah dia tetap menyembunyikan,
nanti juga akan ketauan.
“Kau
benar-benar tidak bersahabat.” Ucapku.
“Tidak
bersahabat? Apa maksudmu? Lebih tidak bersahabat yang mana jika seorang sahabat
memberitahukan hal yang seharusnya tetap disembunyikan kepada orang lain? Mana
yang menurutmu tidak bersahabat?” Ucapnya dengan nada sedikit kesal.
“Iya
iya aku minta maaf padamu. Tapi aku cuma mau membantu hubunganmu dengan Shani
supaya lebih dekat. Asal kau tau saja, menyimpan perasaan terlalu lama juga
tidak baik.” Ucapku menjelaskannya, agar Wahyu sedikit mengerti bagaimana
tujuanku sebenarnya mengatakan itu kepada Shani.
“Sudahlah
diam saja kau. Ini urusanku bukan urusanmu mengerti.” Ucapnya.
“Ya
ampun kau ini.” Ucapku. Terlihat Shani dan ibunya keluar dari rumahnya disusul
oleh kakek neneknya. Kami hanya memandangnya, Shani terlihat sangat cantik
waktu itu. Membuatku benar-benar tidak ingin dia pergi. Mereka berjalan kearah
mobil yang kebetulan berada disebelah kami.
“Datang
untuk menyampaikan salam?” Ucap Ibunya Shani sambil menyimpan beberapa barang
bawaannya kedalam bagasi mobil.
“Sepertinya
begitu.” Ucapku. Wahyu hanya memalingkan wajahnya.
“Begitu
ya. Jaga baik-baik dirimu yah Kido, dan kau juga Wahyu.” Ucap Ibunya Shani lalu
masuk kedalam mobil.
“Kau
juga tante.” Ucapku. Shani lalu menghampiriku dan Wahyu.
“Jadi..
Seperti inikah akhirnya.” Ucap Wahyu. Aku hanya tersenyum, yah. Tepatnya
berusaha untuk tersenyum.
“Aku
senang.” Ucap Shani yang sepertinya menahan air matanya keluar. “Bisa mengenal
kalian berdua. Bisa mendapatkan teman seperti kalian. Aku benar-benar
bersyukur. Terimakasih karena sudah mau menjadi temanku selama ini.” Ucapnya
lirih. Kulihat Wahyu berusaha keras menahan tangisannya, meskipun terlihat dia
sepertinya sudah menangis.
“Jaga
dirimu baik-baik yah. Jaga kesehatanmu juga.” Ucapku. Shani lalu memelukku. Aku
bisa merasakannya. Dia menangis. Aku berusaha menahan tangisanku juga. Aku
mengusap rambut Shani
“Kau
janji tidak akan melupakanku?” Ucapnya yang masih memeluku. Kulihat ibunya
Shani juga ikut menahan tangisnya.
“Tentu.”
Ucapku
“Aku
butuh jawaban yang lebih meyakinkan.” Ucapnya. Suasana menjadi hening sejenak.
“Apa
yang kau maksud? Aku kan sudah bilang tentu. Ya tentu saja aku tidak akan
melupakanmu. Memangnya jawaban seperti apa yang kau harapkan.” Ucapku.
“Tidak
ada. Aku pasti bakalan kangen.” Ucapnya lalu melepaskan pelukannya. Kulihat
Wahyu benar-benar sudah tidak bisa menahan tangisannya.
“Jangan
lupa sesekali untuk berkunjung kesini juga.” Ucap Wahyu sambil terisak. Shani
hanya tersenyum
“Tentu
saja.” Ucap Shani.
“Ooohh
Tuhaann!!” Teriak Wahyu.
“Berisik
sekali!” Ucapku.
“Apa?!”
Ucapnya kesal. Shani hanya tersenyum.
“Kalian
ini masih sempat-sempatnya bertengkar.” Ucap Shani.
“Habis
dianya.” Ucap Wahyu.
“Kalau
begitu aku pergi.” Ucap Shani sambil melambaikan tangan dan mulai memasuki
mobil. Kulihat Wahyu masih terisak isak dengan tangisannya.
“Sudahlah
jangan menangis lagi. Kau tau yang lebih menderita adalah Shani ketimbang kita
berdua.” Ucapku pelan pada Wahyu.
“Aku
berusaha untuk tidak menangis bodoh. Tapi air mata ini keluar dengan
sendirinya.” Ucapnya sambil menutup mata dengan tangannya.
“Siapa
yang kau panggil bodoh?” Ucapku kesal. Shani mulai membuka kaca mobilnya lalu
melambaikan tangan pada kami. Aku hanya tersenyum dan juga melambaikan tangan
padanya. Wahyu juga melambaikan tangan tapi dengan wajah ditutup oleh tanganya
sendiri. Klakson mobil itu dibunyikan, tanda akan benar-benar pergi. Dan akhirnya
perlahan mobil itu melaju meninggalkan tempat asalnya. Shani hanya tersenyum
dan mengucapkan beberapa kata yang tidak bisa kudengar dengan baik karena mobil
itu sudah lumayan jauh. Aku lalu menurunkan tanganku dan melihat Wahyu.
“Sampai
kapan kau akan melakukan hal seperti itu?” Ucapku lalu berjalan kearah kakek
dan neneknya Shani. Wahyu dengan segera menurunkan tangannya dan melihat
kearahku.
“Terimakasih
karena sudah datang.” Ucap kakeknya Shani. Aku mengangguk.
“Iya,
aku harap Shani tidak akan melupakan kita dan akan berkunjung kesini entah
kapan itu.” Ucapku.
“Tentu.
Aku juga mengharapkan hal yang sama denganmu.” Ucap kakeknya Shani.
“Aku
kedalam dulu.” Ucap Neneknya Shani berjalan kedalam rumah sambil membersihkan
air matanya.
“Dia
sangat sayang padanya.” Ucap Kakek Shani.
“Yah,
aku bisa melihatnya.” Ucapku. Kakek Shani tersenyum.
“Dia
hanya berharap agar terus bersama Shani, namun kenyataannya hari yang ditakuti nya
pun datang juga.” Ucap kakek Shani. Aku hanya menunduk.
“Aku
juga tidak tau darimana laki-laki itu tau alamat rumah ini dan bahkan tau kalau
Shani tinggal disini.” Lanjut kakek itu dengan ekspresi sedikit kesal.
“Sudahlah
kek jangan dibahas lagi. Semuanya sudah terjadi.” Ucapku menenangkan.
“Yang
jelas sekarang kita sudah terlanjur tau tentang masalahnya ya kan kek?” Ucap
Wahyu. Aku menatap Wahyu.
“Apa
maksudmu Wahyu?” Ucapku sedikit kesal.
“Biarkan
aku melanjutkan ini.” Ucapnya yang menatapku balik.
“Apa?”
Ucapku.
“Jelaskan
pada kami kek, apa saja yang terjadi kemarin? Tentang pertemuan Shani dengan
Ayah dan adiknya. Apa yang terjadi?” Tanya Wahyu.
“Kau
itu!! Sangat tidak sopan.” Ucapku lalu memegang pundak Wahyu.
“Berisik!!”
Melepaskan tanganku yang memegang pundaknya. “Kau juga ingin mengetahuinya
kan?” Ucap Wahyu lalu menatapku. Jujur. Memang aku juga penasaran apa yang
terjadi dihari pertemuan Shani dengan ayah dan adiknya.
“Tapi.”
Ucapku.
“Tolong
ceritakan kek! Kami tau kami bukan siapa siapa. Tapi Shani teman kami juga,
mungkin selama ini dialah yang paling dekat dengan kami. Jika tidak mau
menceritakan semuanya tolong ceritakan intinya saja, aku tidak mau berpisah
dengannya tanpa mengetahui apapun yang terjadi padanya.” Ucap Wahyu mantap
“Yah.
Shani memang pernah bilang kalau dia sangat dekat dengan kalian berdua. Baiklah
mungkin memang harus aku ceritakan.” Ucap kakek itu.
“Benarkah?”
Ucap Wahyu senang lalu melihatku. Aku hanya tersenyum.
“Kalau
begitu duduklah, tidak enak bercerita sambil berdiri.” Ucap kakek itu sambil
berjalan menuju tempat duduk teras depan rumah lalu diikuti Wahyu dan aku.
No comments:
Post a Comment