Tuesday, September 13, 2016

Langit Biru Bagian 6


Hari ini aku merasa sangat bersemangat. Aku tidak tau kenapa, mungkin salah satu penyebabnya adalah kemarin. Yah, kak Ve menelpon kami kemarin. Dia menanyakan segala hal pada ibu dan aku. Jujur aku benar-benar sangat senang hari itu. Dan aku berharap kak Ve segera menyelesaikan tugas observasinya dan pulang kerumah ini dengan selamat. Disamping itu aku sedikit kurang suka dengan hari ini. Kenapa? Karena hari ini Shani dan Ibunya akan pergi dari kota ini, aku benar-benar berharap ini adalah mimpi. Aku tidak mau kehilangannya. Sial! Dan aku juga sudah memberitahu Wahyu tentang Shani, semuanya aku beritahu. Bahkan aku bilang padanya kalau aku sempat bilang pada Shani kalau dia menyukainya. Hahahaha, dan tentu saja itu membuatnya marah besar padaku. tapi segalanya berjalan normal kembali, mungkin. Hari ini jam 8 tepat aku dan Wahyu sudah janjian bertemu dengan Shani di depan rumahnya. Dia dan Ibunya akan pergi menggunakan mobil pribadi ke luar kota. Aku dan Wahyu bahkan sudah menunggu didepan rumahnya sekitar pukul 7.

“Hei. Aku masih kepikiran dengan kelakuanmu padaku?” Ucap Wahyu.

“Kelakuanku yang mana?” Ucapku.

“Yang benar saja. Kau memberitahunya kalau aku suka padanya sejak 6 bulan yang lalu? Ohh man.. itu akan membuatnya menjauh dariku kau tau?” Ucapnya dengan sedikit kesal.

“Bahkan jika aku tidak memberitahukannya dia akan tetap pergi dan akan tetap menjauh darimu. Bukan hanya dirimu tapi aku juga.” Ucapku. Dia terdiam sejenak.

“Kau tau. Aku benar benar tidak menduga kalau Shani memiliki masalah yang sangat besar. Maksudku, lihatlah cara dia tersenyum, cara dia berbicara. Seperti tidak mempunyai masalah sama sekali kan? Dan dia sepertinya pintar sekali menyembunyikan sesuatu.” Ucapnya. Aku mengangguk.

“Kau benar. Bagaimanapun kita hanya baru mengenalnya 6 bulan ini.” Ucapku.

“Yahh 6 bulan yang indah.” Ucapnya. Aku melihatnya.

“Hei kau tau, sebenarnya aku mulai suka dengan gadis smp itu.” Ucapnya lagi. Aku mengerenyitkan dahiku.

“Gadis smp itu? Siapa?” Tanyaku penasaran.

“Ohh aku tidak akan memberitahumu, aku tidak percaya lagi padamu.” Ucapnya. Aku hanya tersenyum, sepertinya dia benar-benar kesal padaku.

“Ayolah Wahyu, kita kan sahabat. Beritahu aku siapa gadis smp yang kau maksud.” Ucapku dengan nada sedikit memohon.

“Apa? Kau berharap aku memberitahumu siapa gadis itu? Lalu tiba-tiba kau datang padanya dan memberitahukannya kalau aku suka padanya sama seperti yang kau lakukan pada Shani? Jangan bercanda. Aku tidak akan terjebak pada jurang yang sama.” Ucapnya mantap. Baiklah, aku menyerah. Biarlah dia tetap menyembunyikan, nanti juga akan ketauan.

“Kau benar-benar tidak bersahabat.” Ucapku.

“Tidak bersahabat? Apa maksudmu? Lebih tidak bersahabat yang mana jika seorang sahabat memberitahukan hal yang seharusnya tetap disembunyikan kepada orang lain? Mana yang menurutmu tidak bersahabat?” Ucapnya dengan nada sedikit kesal.

“Iya iya aku minta maaf padamu. Tapi aku cuma mau membantu hubunganmu dengan Shani supaya lebih dekat. Asal kau tau saja, menyimpan perasaan terlalu lama juga tidak baik.” Ucapku menjelaskannya, agar Wahyu sedikit mengerti bagaimana tujuanku sebenarnya mengatakan itu kepada Shani.

“Sudahlah diam saja kau. Ini urusanku bukan urusanmu mengerti.” Ucapnya.

“Ya ampun kau ini.” Ucapku. Terlihat Shani dan ibunya keluar dari rumahnya disusul oleh kakek neneknya. Kami hanya memandangnya, Shani terlihat sangat cantik waktu itu. Membuatku benar-benar tidak ingin dia pergi. Mereka berjalan kearah mobil yang kebetulan berada disebelah kami.

“Datang untuk menyampaikan salam?” Ucap Ibunya Shani sambil menyimpan beberapa barang bawaannya kedalam bagasi mobil.

“Sepertinya begitu.” Ucapku. Wahyu hanya memalingkan wajahnya.

“Begitu ya. Jaga baik-baik dirimu yah Kido, dan kau juga Wahyu.” Ucap Ibunya Shani lalu masuk kedalam mobil.

“Kau juga tante.” Ucapku. Shani lalu menghampiriku dan Wahyu.

“Jadi.. Seperti inikah akhirnya.” Ucap Wahyu. Aku hanya tersenyum, yah. Tepatnya berusaha untuk tersenyum.

“Aku senang.” Ucap Shani yang sepertinya menahan air matanya keluar. “Bisa mengenal kalian berdua. Bisa mendapatkan teman seperti kalian. Aku benar-benar bersyukur. Terimakasih karena sudah mau menjadi temanku selama ini.” Ucapnya lirih. Kulihat Wahyu berusaha keras menahan tangisannya, meskipun terlihat dia sepertinya sudah menangis.

“Jaga dirimu baik-baik yah. Jaga kesehatanmu juga.” Ucapku. Shani lalu memelukku. Aku bisa merasakannya. Dia menangis. Aku berusaha menahan tangisanku juga. Aku mengusap rambut Shani

“Kau janji tidak akan melupakanku?” Ucapnya yang masih memeluku. Kulihat ibunya Shani juga ikut menahan tangisnya.

“Tentu.” Ucapku

“Aku butuh jawaban yang lebih meyakinkan.” Ucapnya. Suasana menjadi hening sejenak.

“Apa yang kau maksud? Aku kan sudah bilang tentu. Ya tentu saja aku tidak akan melupakanmu. Memangnya jawaban seperti apa yang kau harapkan.” Ucapku.

“Tidak ada. Aku pasti bakalan kangen.” Ucapnya lalu melepaskan pelukannya. Kulihat Wahyu benar-benar sudah tidak bisa menahan tangisannya.

“Jangan lupa sesekali untuk berkunjung kesini juga.” Ucap Wahyu sambil terisak. Shani hanya tersenyum

“Tentu saja.” Ucap Shani.

“Ooohh Tuhaann!!” Teriak Wahyu.

“Berisik sekali!” Ucapku.

“Apa?!” Ucapnya kesal. Shani hanya tersenyum.

“Kalian ini masih sempat-sempatnya bertengkar.” Ucap Shani.

“Habis dianya.” Ucap Wahyu.

“Kalau begitu aku pergi.” Ucap Shani sambil melambaikan tangan dan mulai memasuki mobil. Kulihat Wahyu masih terisak isak dengan tangisannya.

“Sudahlah jangan menangis lagi. Kau tau yang lebih menderita adalah Shani ketimbang kita berdua.” Ucapku pelan pada Wahyu.

“Aku berusaha untuk tidak menangis bodoh. Tapi air mata ini keluar dengan sendirinya.” Ucapnya sambil menutup mata dengan tangannya.

“Siapa yang kau panggil bodoh?” Ucapku kesal. Shani mulai membuka kaca mobilnya lalu melambaikan tangan pada kami. Aku hanya tersenyum dan juga melambaikan tangan padanya. Wahyu juga melambaikan tangan tapi dengan wajah ditutup oleh tanganya sendiri. Klakson mobil itu dibunyikan, tanda akan benar-benar pergi. Dan akhirnya perlahan mobil itu melaju meninggalkan tempat asalnya. Shani hanya tersenyum dan mengucapkan beberapa kata yang tidak bisa kudengar dengan baik karena mobil itu sudah lumayan jauh. Aku lalu menurunkan tanganku dan melihat Wahyu.

“Sampai kapan kau akan melakukan hal seperti itu?” Ucapku lalu berjalan kearah kakek dan neneknya Shani. Wahyu dengan segera menurunkan tangannya dan melihat kearahku.

“Terimakasih karena sudah datang.” Ucap kakeknya Shani. Aku mengangguk.

“Iya, aku harap Shani tidak akan melupakan kita dan akan berkunjung kesini entah kapan itu.” Ucapku.

“Tentu. Aku juga mengharapkan hal yang sama denganmu.” Ucap kakeknya Shani.

“Aku kedalam dulu.” Ucap Neneknya Shani berjalan kedalam rumah sambil membersihkan air matanya.

“Dia sangat sayang padanya.” Ucap Kakek Shani.

“Yah, aku bisa melihatnya.” Ucapku. Kakek Shani tersenyum.

“Dia hanya berharap agar terus bersama Shani, namun kenyataannya hari yang ditakuti nya pun datang juga.” Ucap kakek Shani. Aku hanya menunduk.

“Aku juga tidak tau darimana laki-laki itu tau alamat rumah ini dan bahkan tau kalau Shani tinggal disini.” Lanjut kakek itu dengan ekspresi sedikit kesal.

“Sudahlah kek jangan dibahas lagi. Semuanya sudah terjadi.” Ucapku menenangkan.

“Yang jelas sekarang kita sudah terlanjur tau tentang masalahnya ya kan kek?” Ucap Wahyu. Aku menatap Wahyu.

“Apa maksudmu Wahyu?” Ucapku sedikit kesal.

“Biarkan aku melanjutkan ini.” Ucapnya yang menatapku balik.

“Apa?” Ucapku.

“Jelaskan pada kami kek, apa saja yang terjadi kemarin? Tentang pertemuan Shani dengan Ayah dan adiknya. Apa yang terjadi?” Tanya Wahyu.

“Kau itu!! Sangat tidak sopan.” Ucapku lalu memegang pundak Wahyu.

“Berisik!!” Melepaskan tanganku yang memegang pundaknya. “Kau juga ingin mengetahuinya kan?” Ucap Wahyu lalu menatapku. Jujur. Memang aku juga penasaran apa yang terjadi dihari pertemuan Shani dengan ayah dan adiknya.

“Tapi.” Ucapku.

“Tolong ceritakan kek! Kami tau kami bukan siapa siapa. Tapi Shani teman kami juga, mungkin selama ini dialah yang paling dekat dengan kami. Jika tidak mau menceritakan semuanya tolong ceritakan intinya saja, aku tidak mau berpisah dengannya tanpa mengetahui apapun yang terjadi padanya.” Ucap Wahyu mantap

“Yah. Shani memang pernah bilang kalau dia sangat dekat dengan kalian berdua. Baiklah mungkin memang harus aku ceritakan.” Ucap kakek itu.

“Benarkah?” Ucap Wahyu senang lalu melihatku. Aku hanya tersenyum.

“Kalau begitu duduklah, tidak enak bercerita sambil berdiri.” Ucap kakek itu sambil berjalan menuju tempat duduk teras depan rumah lalu diikuti Wahyu dan aku.

No comments:

Post a Comment